Bukan Yang Pertama (Part I) By : Musyafir Kata A. A. S
*** Caruban, 12052012, 02:00
Agresi rinai hujan tiada henti, pacuan roda dua Bagas mengalah, merapat kesebuah kedai persinggahan, Bagas melirik takjub pada gadis pengendara motor yang memasuki kedai mendahului langkah Bagas. “Oh, engaku menawan, menawari kopi, padahal aku belum memesannya, sebenarnya tiada ingin menikmati kopi, apalagi cappucino” “Sesama petualang, saat hujan gini terasa nikmat dengan aroma cappucino” jawab gadis ayu, seraya menunjukkan kartu keanggotaan IMBI ‘Ikatan Motor Besar Indonesia’
Okh.., cappucino, hidup telah begitu pahit, haruskah kekeluan lidah mencecap pekat kepahitan lagi? Muncul di benak Bagas, namun kehadiran senyuman dara manis seakan menjelaskan pada Bagas untuk melihat dari sisi yang lain, lewat secangkir cappucino menanti redanya hujan, adalah meneguk kepahitan, simbolis duka, gagal, kesengsaraan hidup, setelah meneguknya akan terasa nikmat, mengajak angan melambung menembus lingkaran mendung, bertengger di angkasa bayang, bercanda dengan gumintang mimpi, seakan pijakan kaki sedang mendaki tangga nirwana.
Ditemani canda riuh, keakrapan terjalin, dari bincang itu Bagas mendapat kenikmatan rasa dari pahitnya perjalanan yang telah ia lalui, dan dari bincang itulah dia mengukir sebuah nama Sonia de Arauju di dinding hatinya, jemari mengaduk kerinduan dalam secangkir cappucino,
"Mas, hujan telah reda" "Tapi..."
“Oya.., jika tiba di Surabaya, ini alamatku”Sonia mengeluarkan secarik kartu nama
“Oya, ini alamat dan nomer ponselku” Bagas pun memberi kartu namanya
*****
Daya Kontruksi, 25052012, 08:00 pagi
Meninggalkan sejenak kisah pertemuan Bagas dengan Sonia yang sedang mengukir cinta lokasi, membuka lembaran kisah Edgar dan Estela rekan bisnis Bagas, dan sahabat lama disalah satu kampus terkenal di kota Surabaya.
:::
Edgar adalah sahabat, partner, dan juga menjadi suami Estela, namun bahtera rumah tangga mereka karam tepat 5 tahun diusia pernikahan mereka, Riani adalah bukti hubungan cinta mereka pernah berada dalam keharmonisan, apa hendak dikata jika catatanNya berbicara lain. Dalam status masyarakat Ny. Estela memiliki titel Janda anak satu.
Walau hubungan mereka telah kandas, sebagai partner kerja yang propisonal, mereka tetap berhubungan sebagai relasi kerja yang sulit dicari tandingannya, posisi Estela sebagai kontruksioner yang berliyan, dan Edgar seorang kontraktor muda yang berbakat, seakan sulit dilepaskan satu dengan yang lainnya. Seperti siang ini, Edgar mengunjungi kantornya selepas tugas lapangan menangani proyek orderan, Edgar menanyakan gambar kontruksi pesanannya.
“Ini pertama kalinya kami menerima order tanpa Steven. Biasanya, Stevenlah yang memberikan kami pencerahan di bidang garment. Namun, karena keperluan keluarga yang mendesak dia cuti sebagai agen dan informan.”
“Mana bestek dan rinciannya Tel….? Oya, maaf …, maksudku ibu Estela Maris”Edgar bercanda, memanggil dengan sapaan kesayangan semasa hubungan mereka berstatus suami istri
Estela Maris mengangguk, sambil menge-print email. "Yah, tadi malam saya nerima surel yang berisi kesepakatan proposal dari Bagas Aryakusuma. beralamat di Surabaya ini, dekat komplek perumahan Bang Edgar, Perumahan Menanggal di Jl menanggal Indah VI no 23, tapi perusahan garmant yang kami bahas bukan di Surabaya, dia mengajak kerjasama di perusahan cabangnya CV. Ganesha yang ada di Jl. Effendi Ds. Kepanjen Malang"
"Tolak aja kenapa sich? Jauh amat lingkup kerjanya, di Malang lagi, siapa yang memperkenalkan kalian" Tanya Edgar dengan mimik cemberut. Sebab Bagas Aryakusuma adalah nama samaran Bayu mantan kekasihnya Estela.
"Bang Edgar, jangan kura-kura dalam perahu dech, saya tau Abang sebel ma dia,sebab kegentelennya merestui perjodohan ortu kita, padahal kami saat itu sudah serius dalam hubungan ke jenjang pelaminan, Oya Bang..! kita mesti profesional dong!"
“He’em dech, lagian saya juga gak punya kuasa ngurusi hubungan personalmu, hanya saja saya kuatir jauh jarak transportasi kantormu dengan lokasi kerjanya, karyawan kita kan masih minim.”seraya mengelus rambut mantan kekasihnya, kebiasaan lama Edgar meredam suara Estela yang mulai meninggi
“Ini namanya perluasan usaha Bang..!”
“Suka-sukamu aja Tel, asal Estela yakin akan keakuratan data-datanya Bagas.”
“Kami janjian siang ini Bang..”
***
Studio Foorcourt lantai 5 Tunjungan Plaza, pukul 11.20 siang.
Edgar melihat keseliling. "Kok Mas Bagas belum kelihatan, ya?" Tanyanya bingung.
"Bukan Bagas Yang datang." Ucap Estela dengan tenang.
Estela melihat mata elang Edgar menatapnya bingung. Seakan dalam benak Edgar bertanya -Jadi siapa dong yang datang?-
Tak lama kemudian, seorang pria yang kira-kira berumur 25 tahunan, masuk ke dalam Resto Ria. Pria itu lumayan cakep. Meski.wajahnya tak sebanding dengan Edgar dan Bagas, tetap membuat terpana sepasang mata yang dimiliki Estela, pria muda itu mengenakan polo shirt putih dengan celana jins. Rambutnya model mahasiswa taruna nusantara, pria itu melihat-lihat sekeliling lalu menghampiri Estela dan Edgar.
"Biar saya yang membuka pembicaraan Bang. Abang pesan aja makanan khas resto Ria pepes jangkang, sebagai teman obrolan kita " Sergah Estela seraya menenggak minuman.
"Mas menghack account Surelnya milik Mas Bagas Ya..?"
Pria itu tercengang, begitu pun Edgar langsung memalingkan wajah setelah memesan pesanan dari pelayan Resto.
"Dari mana mbak tau?" Tanyanya pria itu takjub. Estela hanya tersenyum.
"So, sebaiknya kita membahas persoalan Mas saja, nama dan tujuannya pertemuan kita ." ujar Estela semi rileks.
Raut wajah Edgar nampak bingung, sejak kapan Estela memiliki pikiran detektif, seolah dalam benak Edgar bertanya “What's happen with him?”
"Sebelumnya, boleh saya mengetahui argumentnya dari hipotesa mbak?, oya perkenalkan saya Danarto" Danarto berspekulasi santai juga.
"Well, Bang Bagas biasanya kalau membuat gambar kontruksi, ditujukan untuk proposal, dia tidak merinci detail tulangannya, dan detail Estetikanya, alias besteknya sekadar gambaran GBnya, sebab seorang arsitektur yang jeli akan memasang perangkap hitungan monumentalnya, menjaga-jaga siapa tau proposal tidak disetujui, dan ada yang mencuri idenya, sebab sesama kontruksioner saling memegang etika, kecuali sang arsitektur itu masi pemula di dunia Wirausaha dunia hitam yang penuh mafia ini. Tapi, di proposal saudara Danarto agak aneh bagi saya, jadi saya pikir, surel itu bukan Mas Bagas yang tulis, tapi orang lain yang entah apa tujuannya, saya yakin anda juga jenius, membaca isi surel kami yang sebelumnya, tinggal anda melanjutkan, namun ada kesalahan sedikit di lampirannya yaitu gambar kontruksi pelengkap persyaratan hubungan kerja kami.”penjelasan Estela yang gamblang
"Lalu, apa masalah anda sekarang?" Tanya Edgar yang sedikit bingung dan emosi mengetahui partnernya di kelabuhi
"Pak Bagas-lah yang jadi masalah. Semenjak pembukaan cabang di Malang, dia juga aktif di dunia tulis menulis yang merupakan hobinya, dan saat itulah hubungan kami sebagai penulis-penerbit menjadi akrab, saat dia mengeluarkan tulisan tentang Indonesia Berdarah, saya gak pernah dengar kabar dari dia lagi, komunikasi terputus, padahal ada royalty yang akan kami bahas, oya yang saya ingat dan menjadi penunjuk akan keseriusan hilangnya Pak Bagas adalah ceritanya ke saya, sehari sebelum cetak ulang karya best selernya, dia berbisik kalau dia selalu di ikuti oleh orang asing." Danarto menjelaskan.
“Nyata, saya juga sempat ngeri dengan karyanya, boleh saya berasumsi mungkin ada penggemar rahasianya yang menginginkannya, atau musuh yang tidak suka dengan isi artikel Bung Bagas. Aku ingat kalau kepribadian Mas Bagas adalah misterius, itu sudah menjadi rahasia umum di daftar dan agenda mahasiswa seangkatannya, karena pernah ada artikel ciri-ciri mahasiswa misterius dan perlu diwaspadai. penulisnya bukan mahasiswa tapi dari badan SDI, perpanjangan tangan SGI intelejen pemerintah semasa orba.”
"Itulah alasannya saya mengapa menjadi duplikat Pak Bagas dan mengatur perjanjian dengan semua rekan bisnisnya, termasuk keperusahan anda berdua,” wajah Danarto kian serius, dan melanjutkan hipotesanya
“menurut pandangan saya penculikannya mengarah ke anda, Ny. Estela Maris."
“why I’m on trial, what you alibi”
Edgar tersenyum jahat. Apakah benar? Nampak Wajah Estela memucat. Tak disangka Edgar mengepal tangannya mengancam Danarto .
"Tunggu, kita disini mencari kejelasan duduk perkaranya, ini hanya hipotesa, tak ada salahnya kita membahasnya" Ucap Danarto santai, namun tatapannya menusuk. Orang-orang di sekitar mereka, pengunjung Resto tak menyadari hawa perseteruan di dekat mereka. Edgar memutar-mutar gelas minuman Fanta, enggan memakan pesanan makanan mereka yang baru saja di antar pelayan. Lalu dia tersenyum misterius.
"Menurut Mas Danar, Bagas ada di mana?"
"Hehehe, dalam drafku antara Anda dan mantan kekasih anda, salah satunya tersangka terberat dalam daftar dugaan saya.” Edgar menaikkan alis dan tersenyum misterius, tiba- tiba dia bertanya pada Danarto,
"Apa argument anda?"
Diam-diam Estela mengirim sms pada kekasih Mas Bagas, Sonia. Isi smsnya menanyakan kebenaran cerita Danarto
"Kalo bukan anda, Ny Edgar alias Estela Maris, siapa lagi?, Anda sudah bercerai dengan Bung Edgar, dan harapan anda kembali ke Pak Bagas idaman Anda sangat berpeluang, berhubung Anda masih royal ke perusahaan yang anda berdua kelola, maka keuntungan andil saham dalam perjanjian kalian sangat menggiurkan untuk di bagi 2, tanpa adanya Pak Bagas, mengingat isi kesepakatan kalian, jika Bagas berhalangan, maka anda memiliki hak penuh, sesuai polis yang anda berdua tandatangani, dan diperjanjian itu nama anda sebagai pemegang absolud, jika ada masalah di kemudian hari, dia mempercayakan semua pengelolaan pada anda, jika anda tak berpikir sampai kesana, maka bung Edgarlah yang pantas memiliki rencana penculikan pak Bagas, sebab dengan hilangnya Pak Bagas maka semua CV garmand di malang menjadi hak mantan kekasih Anda, dan anda tak ingin hubungan Pak Bagas dengan Ny. Estela membaik seperti dulu lagi, sebab asset keberhasilan anda adalah Estela." Tatang Danato dengan suara mengema.
"Sekedar tanya, apa temen-temen Mas Bagas menceritakan ciri-cirinya orang asing yang mencurigakan?" Tanya Edgar tenang, lalu dia menoleh pada Estela seakan mendapat celah di argument pria asing itu.
"Yah, mereka ngasih tau. Katanya wajahnya persis Estela. Dan selalu memainkan pena berwarna kuning ke-emasan. . . "
“Logo Garuda sayap tertutup..?”
“Apanya..?”
“Yach penanya, masa kacamatanya..? anda tadi mengatakan pena berlogo garuda”
“Kolerasinya…? Dengan cerita saya..?”
“Anda tahu jawabannya, sebab anda juga anggota SDI, identitas anda Pena perak logo garuda sayap terbuka untuk laki-laki, dan pena kuning emas sayap tertutup untuk intelejen wanita, dan nomer ID anda ada di tiap titik-titik berwarna hijau itu. Maaf tidak sengaja saya melihat anda menulis dengan pena itu tadi.”
“Siapa Edgar..?, mengapa dia tahu kode rahasia kami..?”timbul tanda tanya besar di kening Danarto Dingin udara di luar Tanjung Plaza disebabkan hujan, tapi panas hawa di meja bernomer 17 yang mereka tempati.
"Tapi, kata mereka dia mirip Estela, itu saksi mata yang saya tanyai di dekat rumah pak Bagas!" Danarto mempertahankan argumentnya.
"Walaupun mirip, tapi itu belum tentu saya mas Danarto..!" Ujar Estela mulai naik pitam, di tengah kemisteriusan persoalan, sebab tujuan awal pertemuan ini membahas lanjutan kesepakatan kerjasama dua perusahan jasa kontruksi.
Tiba-tiba sebuah masalah muncul, dan saling menuduh, membuat pikiran o’on seorang kontruksioner menjadi tambah o’on, dan bertambah buram. Tak lama sms masuk di susul MMS ke HP-Estela. Tampak netranya membelalak terkejut dan memberikannya ke Edgar.
"Well, kayaknya kita udah tau siapa pelakunya." Kata Edgar sambil menyodorkan HP Estela berisi MMS foto kehadapan Danarto Danarto terdiam, namun ada kilatan cahaya lain di matanya, dia pun menatap Edgar.
"Saya gak percaya. Ini ! yang di curigai perempuan, tapi kenapa foto saya ," Danarto menatap Estela dan Edgar bergantian.
“Ada foto penyamaran kostum anda saat anda melepas di gank kecil, anda lupa Mas Bagas memiliki security di depan rumahnya”
“Dari mana anda mendapat kiriman foto ini, dan kapan anda mengirimnya ke HP Ny Estela, bung Edgar..?”
“Kenapa Saya..?, itu dari mana MMS Tel..? “Edgar di buat bingun dengan pertanyaan Danarto seakan menjebaknya. “Dari Sonia, pacarnya Mas Bagas, saat mas Danarto cerita tentang ada yang mengikuti mas Bagas, saya langsung sms ke Sonia, dia membetulkan cerita itu, dia pun mengatakatan memiliki foto si pengintai yang diperoleh dari satpamnya Mas Bagas saat Sonia mencari tahu keberadaan kekasihnya, lalu saya minta dikirimkan.fotonya” “Apakah HP Edgar ada di Sonia,” memecah suara dan terdengar tawa kemenangan Danarto, dia pun melanjutkan kata-katanya, “Ooo, saya tahu sekarang, memang anda pelaku penculikan itu, sebab siapa saja gadis yang didekati Pak Bagas, pasti anda mencicipi keperawanannya duluan, pertama Anggelina atau Rabi’ah pacar Pak Bagas saat semester 1 [[ ingin tahu siapa anggelina alias Rabi’ah, ada di cerita MENGINTAI LANGKAHMU I & II ]] , dan Ny. Estela, tak sampai di situ, Sonia pun sudah anda cicipi sebelum Pak Bagas memperoleh mahkota keperawanan Sonia, itukah alasan anda ya saudara Edgar ..? menceraikan Ny. Estela, … dan…”
“Apa maksud anda..?”Estela memotong pembicaraan Danarto yang membingungkan.
“Siapa nama pengirim mms itu Ny. Estela Maris”
“Edgar Argadinata…”ucap Estela penuh tanda Tanya, setelah memperhatikan pengirim MMS, “padahal tadi saya sms Sonia”sambung Estela
“Bung Edgar, perlu di garis bawahi walau pun anda si pengirim sesungguhnya, saya masih bingung, yang jadi pertanyaan saya …?” terputus ucapan Danarto, karena terpotong kehadiran suara Sonia, yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul di pertemuan yang mistrius itu.
“Sama seperti yang ada di benakku, bagaimana Edgar mengirim mms dengan tidak menekan tombol HPnya..?” “Tunggu-tunggu…, di HP-mu si pengirimnya saya ya Estela, padahal kamu ngirim sms minta foto ke Sonia..?, berarti Sonia-lah pengirim sesungguhnya, dia menggunakan aplikasi Fake Message" “Kok saya…!, saya sendiri malah bingung, ada sms masuk dari Edgar, tapi kata-kata sms itu saya yakin bukan dari Edgar, karena dia tidak memanggil saya Sonia, tapi Lina, nama belakangku Sonia Herlina., isi smsnya penting menyuruh saya kesini, kebetulan saya ada di salon tidak jauh dari sini” “Okhh…, Apa-apan ini, saya tambah bingung.., lalu siapa, dan apa maksud semua ini…?” Estela berteriak, sempat membuat pengunjung Resto Ria menoleh kearah mereka, namun suasana mereda setelah Bang Edgar melambaikan tangan memberi tanda tidak terjadi apa-apa.
========= ====== =========
Sahabat....??? Siapa dan apa tujuan si pengirim MMS, ~ Bagas/Bayu-kah, lalu apa keuntungannya jika dia…? ~ Mungkinkah Edgar pelaku penculikan misterius, karena dia dililit hutang, dengan persteruan itu dia akan menjadi penguasa tunggal di daya kontruksi dan Ganesha Garmand di Malang..setelah memenjarakan mantan kekasihnya Estela…? ~ atau memang Estela yang tergiur dengan kekuasaan absouludnya...? ~ Atau mungkin Danarto, sebab profesi sebenarnya adalah Anggota badan intelegen SDI, bukan penerbit sebagaimana pengakuannya, dia mengharap perseteruaan terjadi. Pasti akan muncul saling tuduh menuduh membongkar misteri hilangnya Bagas ~ Atau mungkin Sonia kekasih Bagas, mencoba membuat perpecahan hubungan perusahaan mereka, karena dia cemburu jika Bagas kembali melirik Estela….. <<== jawabannya ada di BUKAN YANG PERTAMA part II….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar